Komunitas Mangrove Bengkulu

Senin, 07 September 2015

Riki Rahmansyah dan Semangat Komunitas Mangrove Bengkulu


Riki memegang mangrove jenis Rhizopora apiculata (kanan) dan Bruguiera gymnorrhiza (kiri) yang ditanam di Kelurahan Pondok Besi, Kota Bengkulu. Foto: Dedek Hendry
Riki memegang mangrove jenis Rhizopora apiculata (kanan) dan Bruguiera gymnorrhiza (kiri)
 yang ditanam di Kelurahan Pondok Besi, Kota Bengkulu. Foto: Dedek Hendry

Terik mentari Minggu (30/8/15) siang, seolah tak dirasakan Riki Rahmansyah. Satu per satu, pohon mangrove yang ditanam menggunakan media batang bambu di muara Sungai Hitam diperiksanya. Selain membersihkan dari ranting atau daun yang tersangkut, pemeriksaan juga dilakukannya untuk melihat kondisi pohon mangrove yang ditanam.
“Teknik penanam ini disebut REM atau Relay Encased Method. Kalau nama pohonnya, Rhizopora apiculata atau bakau minyak,” papar Riki setelah menyelesaikan aktivitasnya.
Pemeriksaan tersebut dilakukan Riki dua kali sebulan. Sesuai jadwal, harusnya Minggu itu, Riki bersama anggota Komunitas Mangrove Bengkulu (KMB) akan mengambil lumpur di muara Sungai Air Bengkulu. Namun ditunda karena sebagian temannya ada keperluan lain.
“Mengambil lumpur untuk media pembibitan. Kami sudah merencanakan aksi penanaman 10.000 pohon di kawasan hutan mangrove Pulau Baai. Sekarang dalam tahap penanaman di polybag,” kata Koordinator KMB ini.
Sembari istirahat, Riki menceritakan kepeduliannya pada hutan mangrove yang berawal dari orientasi pengenalan kampus (Ospek) mahasiswa baru Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu, Agustus 2008. Perlahan, ketertarikannya bertambah saat mengikuti pertemuan Sylva Indonesia di Lampung Timur, April 2010. Dalam kegiatan itu, Riki berpartisipasi dalam aksi penanaman mangrove yang merupakan pengalaman pertamanya.
Peristiwa penting lainnya adalah sewaktu mengikuti kegiatan di Univeristas Negeri Papua pada November 2010. Serupa sewaktu ospek, seorang dosen di universitas ini memanggilnya Sonneratia caseolaris, setelah dia berinisiatif menanyakan cara menyemai Sonneratia di sela kegiatan.
Sepulang dari Papua, semangat Riki meningkat. Dia mulai mencari orang yang mau diajak belajar bersama menanam sekaligus membperbaiki mangrove. Alhasil, ada lima orang. Mereka pun membentuk KMB pada 26 Agustus 2013 dan Riki dipercaya menjadi koordinator.
Usai dibentuk, KMB langsung merencanakan aksi penanaman. “Penanaman pertama pada 8 September. Lokasinya malah bukan di kawasan mangrove. Tetapi di saluran drainase yang mengalirkan air limbah domestik warga ke pantai, di Kelurahan Pondok Besi. Sekitar 200 propagul (buah) Rhizopora apiculata ditanam,” kata Riki.
Selang 20 hari, KMB melakukan Jelajah Bakau di Taman Wisata Alam Pantai Panjang. Sebanyak 21 orang berpartisipasi. Aksi dilakukan dengan menamam 1.000 propagul Rhizopora apiculata. Paska Jelajah Bakau, 10 orang bergabung menjadi anggota Komunitas Mangrove Bengkulu. “Memperingati Hari Pohon Nasional 28 November 2013, kami melakukan penanaman lagi di Kelurahan Pondok Besi sebanyak 2.000 propagul. Aksi ini melibatkan kelompok Karang Taruna Segara Indah Kelurahan Pondok Besi.”
Hingga Agustus 2015, KMB telah melakukan 20 kali aksi penanaman di Kelurahan Pondok Besi, Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang-Pulai Baai, dan Muara Sungai Hitam. Beberapa kegiatan dilakukan bersama Mapetala Bengkulu, GMKI Cabang Bengkulu dan Sahabat Walhi Bengkulu. Jenis pohon yang ditanam adalah bakau minyak, tengar (Ceriops tagal) dan putut (Bruguiera gymnorrhiza) dengan jumlah 15.000 propagul dan bibit. “Selain REM, metode yang digunakan adalah tunggal dan berumpun,” papar Riki.

Riki bersama relawan KBM memeriksa kondisi pohon Rhizopora apiculata yang ditanam menggunakan teknik REM. Foto: Dedek Hendry
Riki bersama relawan KBM memeriksa kondisi pohon Rhizopora apiculata
yang ditanam menggunakan teknik REM. Foto: Dedek Hendry



















Kian semangat
Tidak mudah bagi Riki bersama anggota KMB memperoleh dukungan. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang melecehkan. Termasuk, menganggap Riki dan anggota KMB sebagai orang aneh. “Banyak yang geleng kepala melihat kami mengambil lumpur di muara sungai. Termasuk ada pengajar yang menganggap aksi kami menanam di Kelurahan Pondok Besi sebagai perbuatan gila, tidak sesuai teori. Karena, lokasi penanaman bukanlah kawasan pasang surut, tidak bersedimentasi, dan tidak berair payau.”
Dilecehkan justru membuat semangat Riki dan anggota Komunitas Mangrove Bengkulu berkobar. “Sejauh ini, saya sudah cukup puas. Pohon yang ditanam, tumbuh subur. Ada yang tingginya sudah 110 cm, berdiameter 22,1 meter, dan berjumlah daun 114 lembar. Anggota kelompok karang taruna Segara Indah ikut menjaga. Termasuk orang yang biasa menebas rumput atau belukar di sekitar lokasi untuk pakan ternak, tidak menebang mangrove yang tumbuh subur itu.”
Upaya memperbaiki dan membangun hutan mangrove penting dilakukan. Mengingat UNDP menyebutkan Bengkulu merupakan daerah yang paling rawan bencana alam berkaitan perubahan iklim. Di lain pihak, mangrove merupakan ekosistem yang penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim. Laju penyerapan karbon oleh hutan mangrove tinggi. “Hasil penelitian CIFOR menyimpulkan mangrove merupakan tipe hutan yang rerata simpanan karbonnya tertinggi dibandingkan tipe hutan lainnya di kawasan tropis,” terang Riki.
Aspek penting lainnya adalah ikut menjaga kelestarian fauna. Hasil pengamatannya, Riki mencatat ada monyet ekor panjang, lutung kelabu, bajing kelapa, dan berang-berang. “Fauna lainnya adalah burung seperti elang tiram, elang -laut perut- putih, munguk beledu, cipoh jantung, dan kareo padi.”
Luas hutan mangrove di Kota Bengkulu adalah 247,61 hektar termasuk 118,14 hektar berstatus TWA Pantai Panjang-Pulai Baai. Adapun target Riki bersama KMB melakukan perbaikan hutan mangrove seluas 38,25 hektar. “Target itu ditetapkan karena terkategori kritis dan kami lakukan perlahan. Dukungan segala pihak kami harapkan, demi perbaikan lingkungan Bengkulu yang lebih baik,” ujar Riki.

Riki memegang pohon Rhizopora apiculata yang kulitnya diambil oleh nelayan untuk mewarnai jaring. Aktivitas  itu dapat memicu kematian pohon. Foto: Dedek Hendry
Riki memegang pohon Rhizopora apiculata yang kulitnya diambil oleh nelayan
untuk mewarnai jaring. Aktivitas itu dapat memicu kematian pohon. Foto: Dedek Hendry

Sumber : Mongabay.co.id

http://www.mongabay.co.id/2015/09/06/riki-rahmansyah-dan-semangat-komunitas-mangrove-bengkulu/

2 komentar:

  1. selamat siang.. waw luarbiasa ya, mangrove mampu membantu menyelamatkan daratan dari tergerusnya air laut atau sungai, juga mampu mencegah banjir. saya setuju dengan pengembangan penanaman hutan mangrove. oya ka rifki bagaimana caranya kami bisa gabung dengan komunitas ini? saya mau bergabung ini alamat email saya Septinamaya95@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih maya oh iya ini ada link formulir Volunteer Komunitas Mangrove Bengkulu http://www.4shared.com/file/NqBnwVQEba/FORMULIR_Volunteer.html silahkan didownload ya, jika sudah nanti bisa dikirim ke alamat email mangrove.bengkulu@gmail.com

      Hapus