Komunitas Mangrove Bengkulu

Senin, 07 Desember 2015

Penanaman Mangrove Bersama Mahasiswa FKIP Biologi UNIB

Komunitas Mangrove Bengkulu bersama Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Bengkulu beserta Volunteer Komunitas Mangrove Bengkulu, Melakukan Penanaman Mangrove jenis Rhizophora apiculata (bakau minyak) di kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang dan Pulau Baai. (5/12) Kegiatan ini salah satu dari rangkaian restorasi 10000 Mangrove yang secara resmi di buka pada pencanangan Abdimas Universitas Terbuka bekerja sama dengan YAPEKA, PILAR INDONESIA dan Komunitas Mangrove Bengkulu pada tanggal 28 November 2015.

Senin, 30 November 2015

Universitas Terbuka bersama YAPEKA, PILAR Indonesia dan Komunitas Mangrove Bengkulu Merestorasi 10000 Bibit Mangrove

Universitas Terbuka Mempelopori Pelestarian Lingkungan
“Hijaukan Pesisir, Perkuat Benteng Maritim”

Anak SMK N 7 sedang Menanam Mangrove dalam kegiatan 
Restorasi 10000 mangrove (28/10) di TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai
Universitas Terbuka (UT) telah melakukan kegiatan Abdimas Penghijauan dari tahun 2011-2014 baik di kawasan pegunungan maupun pesisir. Tahun  2015 merupakan tahun ke-5 kegiatan penghijauan ini berjalan, yang dilakukan di Bengkulu, Lampung, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. Universitas Terbuka bekerjasama dengan Yapeka bersama mitra yang terdiri dari Kanopi Indonesia, Pilar, Manengkel Solidaritas, dan Kelompok Tani setempat akan menanam sebanyak 40.000 bibit mangrove dengan jumlah 10.000 bibit mangrove pada masing-masing lokasi.

Indonesia memiliki luasan hutan mangrove terbesar didunia, yaitu 25% dari keseluruhan luas hutan mangrove dunia. Hutan mangrove memiliki peran penting sebagai barisan pertahanan pantai, mangrove menjadi bagian terbesar perisai terhadap hantaman gelombang laut di zona terluar daratan pulau. Hutan mangrove juga melindungi bagian dalam pulau secara efektif dari pengaruh gelombang dan badai yang terjadi. Mangrove merupakan pelindung dan sekaligus sumber nutrien bagi organisme yang hidup di tengahnya. Akan tetapi saat ini kondisi hutan mangrove di Indonesia mengalami kerusakan, pada tahun 2012 lebih dari 50% kondisi hutan mangrove di Indonesia mengalami kerusakan/ deforestasi.

Deforestasi yang terjadi umumnya disebabkan oleh penebangan kayu ilegal dan konversi hutan menjadi kolam dan tambak, pemukiman dan kebun kelapa sawit dan pertanian.  Kondisi ini berdampak pada semakin kecilnya area berkembangbiak berbagai satwa seperti ikan dan burung, menurunnya populasi beberapa jenis ikan, udang dan kepiting mangrove, sehingga diperlukan langkah-langkah rehabilitasi mangrove agar kondisi hutan mangrove membaik. Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Yapeka menyatakan bahwa mangrove perlu diselamatkan karena memberikan dampak positif bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan. “Perlu didorong pemanfaatan secara berkelanjutan, misalnya dengan ekowisata serta pendidikan lingkungan,” ungkap Edy Hendras Wahyono, Direktur Eksekutif Yapeka.  Hal senada juga disampaikan Ismail, selaku Direktur Pilar bahwa keberadaan mangrove memberikan nilai ekonomi yang baik bagi masyarakat dibandingkan dengan tidak ada mangrove sama sekali. Tidak dipungkiri bahwa upaya pelestarian pesisir banyak mendapat tantangan karena pembangunan yang pesat selama ini. Namun dengan tekad yang kuat, pesisir yang terjaga dengan baik akan mendapatkan manfaat jangka panjang.  Maruf Erawan, Direktur Kanopi Indonesia mengamini bahwa pemafaatan pesisir dapat dilakukan secara berkelanjutan tidak hanya untuk kebuhan sesaat.  Saat ini, perhatian tidak hanya di kawasan dataran tinggi saja atau pegunungan, namun wilayah pesisir perlu mendapat perhatian pula, tambah Sonny dari Manengkel Solidaritas. 
Vegetasi hutan Mangrove sangat besar fungsinya dalam memperkuat pertahanan pesisir maritim terlebih di Pesisir Pantai Barat Bengkulu hutan mangrovenya sangat tipis dari perhitungan Komunitas  Mangrove Bengkulu dengan melakukan pengolahan data GIS luasan hutan mangrove di kota Bengkulu seluas  407,74 ha yang berhutan  247,61 ha (118,14 ha di dalam Kawasan TWA Pantai Panajang dan Pulau Baai sisahnya 129,61 ha di luar kawasan hutan konservasi) kawasan yang menjadi tambak 160,13 ha dimana ada 28,01 ha di dalam Kawasan TWA Panatai Panjang dan Pulau Baai 132 ha di luar kawasan hutan Konservasi, ada 32,89 ha lahan yang menjadi prioritas kami dalam merestorasi dan merehabilitasi hutan mangrove Kata Riki Rahmansyah Ketua Komunitas Mangrove Bengkulu. Di lain sisi hutan mangrove ini sangat penting bagi nelayan, sebab aktivitas di dalam hutan mangrove sangat tinggi seperti pantauan dari Komunitas Mangrove Bengkulu ada lebih 20 orang pencari kerang Lokan (Geloina erosa) dalam satu hari saja mereka dapat menjual 10 kg kerang lokan bersih dengan harga perkilo mencapai Rp 30.000,- salah satu nelayan mengatakan kondisi pada saat ini untuk mendapatkan 10 kg kerang lokan bersih sudah sangat sulit karena lokannya sudah sedikit akibat berkurangnya hutan mangrove, bayangkan saja jika sudah tidak ada lagi Hutan mangrove maka kita tidak akan pernah lagi bisa menikmati Lokan, Udang, Ikan dan Kepiting Bakau. Dengan kegiatan Restorasi 10000 bibit Mangrove ini dapat mengembalikan rumah bagi Biota Laut dan dapat menyumbangkan oksigen serta dapat memperkokoh pesisir Barat Kota Bengkulu tutur Riki Rahmansyah 

Untuk menindaklanjuti kegiatan pelestarian pesisir tersebut, UT akan melakukan penanaman mangrove secara serentak pada bulan November 2015, yaitu di :
1.  Kelurahan Sambuli, Kecamatan Abeli, Kendari (Sulawesi Tenggara) pada tanggal 21 November 2015.
2.     Desa Tarabitan, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara pada tanggal 21 November 2015.
3.      Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, pada tanggal 28 November 2015.
4.  TWA pantai panjang, Kelurahan Lingkar Barat, Kecamatan Gading Cempaka kota Bengkulu pada tanggal 28 November 2015.

Rektor UT, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D menyampaikan bahwa saat ini dunia menggantungkan pasokan oksigen dari Indonesia karena itu hutan perlu dijaga dan UT memiliki komitmen kuat untuk pelestarian lingkungan. “Pengabdian kepada Masyarakat UT sejak tahun 2011 difokuskan pada penghijauan dan pendidikan dengan melibatkan anak sekolah dan mahasiswa” tambahnya. Ketua LPPM UT, Ir. Kristanti Ambar Puspitasari, M.Ed., Ph.D menambahkan bahwa LPPM mendorong program penghijauan yang dilakukan dapat ikut memperbaiki kerusakan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama, termasuk kalangan sivitas akademika, sehingga kegiatan UT tersebut dapat dicontoh oleh instansi lain.


Diharapkan dengan kegiatan penanaman mangrove di Bengkulu, Lampung, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara maka usaha rehabilitasi mangrove dan pelestarian kawasan pesisir di Indonesia dapat berjalan lebih cepat dan lebih baik.. Dengan menanam mangrove berarti kita telah membangun perisai hijau dan memperkuat benteng maritim di kawasan pesisir Indonesia.

Selasa, 22 September 2015

Volunteer Komunitas Mangrove Bengkulu

















Bagi rekan-rekan yang berminat menjadi Volunteer Komunitas Mangrove Bengkulu dan ingin tau tentang mangrove, caranya dengan mengisi Formulir Volunteer KMB, rekan-rekan dapat mendownload filenya di link dibawah ini:
http://www.4shared.com/file/NqBnwVQEba/FORMULIR_Volunteer.html

Setelah di download dan diisi  soft filenya tolong kirim ke alamat email Komunitas Mangrove Bengkulu: mangrove.bengkulu@gmail.com . Soft copy di bawah saat di hubungin oleh Komunitas Mangrove Bengkulu

Salam Mangrove.....!!

Senin, 07 September 2015

Riki Rahmansyah dan Semangat Komunitas Mangrove Bengkulu


Riki memegang mangrove jenis Rhizopora apiculata (kanan) dan Bruguiera gymnorrhiza (kiri) yang ditanam di Kelurahan Pondok Besi, Kota Bengkulu. Foto: Dedek Hendry
Riki memegang mangrove jenis Rhizopora apiculata (kanan) dan Bruguiera gymnorrhiza (kiri)
 yang ditanam di Kelurahan Pondok Besi, Kota Bengkulu. Foto: Dedek Hendry

Terik mentari Minggu (30/8/15) siang, seolah tak dirasakan Riki Rahmansyah. Satu per satu, pohon mangrove yang ditanam menggunakan media batang bambu di muara Sungai Hitam diperiksanya. Selain membersihkan dari ranting atau daun yang tersangkut, pemeriksaan juga dilakukannya untuk melihat kondisi pohon mangrove yang ditanam.
“Teknik penanam ini disebut REM atau Relay Encased Method. Kalau nama pohonnya, Rhizopora apiculata atau bakau minyak,” papar Riki setelah menyelesaikan aktivitasnya.
Pemeriksaan tersebut dilakukan Riki dua kali sebulan. Sesuai jadwal, harusnya Minggu itu, Riki bersama anggota Komunitas Mangrove Bengkulu (KMB) akan mengambil lumpur di muara Sungai Air Bengkulu. Namun ditunda karena sebagian temannya ada keperluan lain.
“Mengambil lumpur untuk media pembibitan. Kami sudah merencanakan aksi penanaman 10.000 pohon di kawasan hutan mangrove Pulau Baai. Sekarang dalam tahap penanaman di polybag,” kata Koordinator KMB ini.
Sembari istirahat, Riki menceritakan kepeduliannya pada hutan mangrove yang berawal dari orientasi pengenalan kampus (Ospek) mahasiswa baru Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu, Agustus 2008. Perlahan, ketertarikannya bertambah saat mengikuti pertemuan Sylva Indonesia di Lampung Timur, April 2010. Dalam kegiatan itu, Riki berpartisipasi dalam aksi penanaman mangrove yang merupakan pengalaman pertamanya.
Peristiwa penting lainnya adalah sewaktu mengikuti kegiatan di Univeristas Negeri Papua pada November 2010. Serupa sewaktu ospek, seorang dosen di universitas ini memanggilnya Sonneratia caseolaris, setelah dia berinisiatif menanyakan cara menyemai Sonneratia di sela kegiatan.
Sepulang dari Papua, semangat Riki meningkat. Dia mulai mencari orang yang mau diajak belajar bersama menanam sekaligus membperbaiki mangrove. Alhasil, ada lima orang. Mereka pun membentuk KMB pada 26 Agustus 2013 dan Riki dipercaya menjadi koordinator.
Usai dibentuk, KMB langsung merencanakan aksi penanaman. “Penanaman pertama pada 8 September. Lokasinya malah bukan di kawasan mangrove. Tetapi di saluran drainase yang mengalirkan air limbah domestik warga ke pantai, di Kelurahan Pondok Besi. Sekitar 200 propagul (buah) Rhizopora apiculata ditanam,” kata Riki.
Selang 20 hari, KMB melakukan Jelajah Bakau di Taman Wisata Alam Pantai Panjang. Sebanyak 21 orang berpartisipasi. Aksi dilakukan dengan menamam 1.000 propagul Rhizopora apiculata. Paska Jelajah Bakau, 10 orang bergabung menjadi anggota Komunitas Mangrove Bengkulu. “Memperingati Hari Pohon Nasional 28 November 2013, kami melakukan penanaman lagi di Kelurahan Pondok Besi sebanyak 2.000 propagul. Aksi ini melibatkan kelompok Karang Taruna Segara Indah Kelurahan Pondok Besi.”
Hingga Agustus 2015, KMB telah melakukan 20 kali aksi penanaman di Kelurahan Pondok Besi, Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang-Pulai Baai, dan Muara Sungai Hitam. Beberapa kegiatan dilakukan bersama Mapetala Bengkulu, GMKI Cabang Bengkulu dan Sahabat Walhi Bengkulu. Jenis pohon yang ditanam adalah bakau minyak, tengar (Ceriops tagal) dan putut (Bruguiera gymnorrhiza) dengan jumlah 15.000 propagul dan bibit. “Selain REM, metode yang digunakan adalah tunggal dan berumpun,” papar Riki.

Riki bersama relawan KBM memeriksa kondisi pohon Rhizopora apiculata yang ditanam menggunakan teknik REM. Foto: Dedek Hendry
Riki bersama relawan KBM memeriksa kondisi pohon Rhizopora apiculata
yang ditanam menggunakan teknik REM. Foto: Dedek Hendry



















Kian semangat
Tidak mudah bagi Riki bersama anggota KMB memperoleh dukungan. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang melecehkan. Termasuk, menganggap Riki dan anggota KMB sebagai orang aneh. “Banyak yang geleng kepala melihat kami mengambil lumpur di muara sungai. Termasuk ada pengajar yang menganggap aksi kami menanam di Kelurahan Pondok Besi sebagai perbuatan gila, tidak sesuai teori. Karena, lokasi penanaman bukanlah kawasan pasang surut, tidak bersedimentasi, dan tidak berair payau.”
Dilecehkan justru membuat semangat Riki dan anggota Komunitas Mangrove Bengkulu berkobar. “Sejauh ini, saya sudah cukup puas. Pohon yang ditanam, tumbuh subur. Ada yang tingginya sudah 110 cm, berdiameter 22,1 meter, dan berjumlah daun 114 lembar. Anggota kelompok karang taruna Segara Indah ikut menjaga. Termasuk orang yang biasa menebas rumput atau belukar di sekitar lokasi untuk pakan ternak, tidak menebang mangrove yang tumbuh subur itu.”
Upaya memperbaiki dan membangun hutan mangrove penting dilakukan. Mengingat UNDP menyebutkan Bengkulu merupakan daerah yang paling rawan bencana alam berkaitan perubahan iklim. Di lain pihak, mangrove merupakan ekosistem yang penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim. Laju penyerapan karbon oleh hutan mangrove tinggi. “Hasil penelitian CIFOR menyimpulkan mangrove merupakan tipe hutan yang rerata simpanan karbonnya tertinggi dibandingkan tipe hutan lainnya di kawasan tropis,” terang Riki.
Aspek penting lainnya adalah ikut menjaga kelestarian fauna. Hasil pengamatannya, Riki mencatat ada monyet ekor panjang, lutung kelabu, bajing kelapa, dan berang-berang. “Fauna lainnya adalah burung seperti elang tiram, elang -laut perut- putih, munguk beledu, cipoh jantung, dan kareo padi.”
Luas hutan mangrove di Kota Bengkulu adalah 247,61 hektar termasuk 118,14 hektar berstatus TWA Pantai Panjang-Pulai Baai. Adapun target Riki bersama KMB melakukan perbaikan hutan mangrove seluas 38,25 hektar. “Target itu ditetapkan karena terkategori kritis dan kami lakukan perlahan. Dukungan segala pihak kami harapkan, demi perbaikan lingkungan Bengkulu yang lebih baik,” ujar Riki.

Riki memegang pohon Rhizopora apiculata yang kulitnya diambil oleh nelayan untuk mewarnai jaring. Aktivitas  itu dapat memicu kematian pohon. Foto: Dedek Hendry
Riki memegang pohon Rhizopora apiculata yang kulitnya diambil oleh nelayan
untuk mewarnai jaring. Aktivitas itu dapat memicu kematian pohon. Foto: Dedek Hendry

Sumber : Mongabay.co.id

http://www.mongabay.co.id/2015/09/06/riki-rahmansyah-dan-semangat-komunitas-mangrove-bengkulu/

Sabtu, 05 September 2015

Langkah-Langkah Pembibitan Pidada Merah Sonneratia caseolaris oleh Komunitas Mangrove Bengkulu

Pembibitan merupakan salah satu faktor pendukung sebelum kegiatan Rehabilitasi dan Restorasi Mangrove, Penanaman yang sering dilakukan oleh pelestari mangrove kebanyakan jenis Rhizophora mocrunata (bakau hitam), Rhizophora apiculata (bakau minyak), Avicenia sp (api-api), dan Brugueira gymnorrhiza (Putut/mata buaya). Jika dilihat berdasarkan Zonazi Mangrove jenis yang paling depan adalah Pidada (Sonneratia sp) baik pidada merah maupun pidada putih, untuk menanam jenis Pidada ini kita terlebih dahulu melakukan pembibitan. ada beberapa langkah pembibitan Pidada merah oleh Komunitas Mangrove Bengkulu :
1. Kita harus memanen buah yang sudah matang baik masih dipohon maupun yang sudah jatuh di lantai hutan
2. Pisahkan Biji pidada merah dari daging buah pidada merah 
Biji Pidada Merah (Sonneratia caseolaris) yang sudah di pisahkan dari daging buah
3. Rendam biji pidada merah selama -+ 15 menit lalu jemur biji -+ 10 menit untuk memecahkan dormansinya
4. Siapkan Bak tabur dan media (Sedimentasi),
5. Langkah selanjutnya biji pidada kita semai di bak tabur yang sudah di beri lumpur sedimentasi dan air setinggi kurang lebih 5mm dari permukaan sedimentasi selama 2-3 hari.
Biji yang telah dijemur di semai di bak tabur
6. Siapkan Kontainer (polybag/ Cup jus) yang sudah diisi lumpur sedimentasi 
7. Setelah biji menjadi kecambah pindahkan semai dari bak tabur ke kontainer (polybag/ Cup jus) 1 kontainer maksimal diisi 2 semai untuk mengantisipasi jika salah satu semai mati.

Biji yang sudah berkecambah

8. Setelah semua semai dipindahkan ke kontainer, siram semai 2 hari sekali selama 1-2 bulan hingga bibit siap di tanam.
Pemindahan Semai dari Bak tabur ke kontainer
9. Amati perekembangan pertumbuhannya 3 hari sekali selama pembibitan, adapun yang diamati adalah: jumlah daun, tinggi bibit, diameter bibit.
Semai Pidada Merah (Sonneratia caseolaris)

10. Setelah bibit berumur 2 bulan, bibit siap ditanam
Selamat Mencoba, Semoga Bermanfaat.

 Salam Mangrove.

Selasa, 01 September 2015

Menanam Mangrove untuk Ekonomi dan Ekologi


Komunitas Mangrove Bengkulu Sedang Melakukan Penanaman
di Pondok Besi (5/6/2014)
Mangrove tidak hanya memiliki fungsi ekologi, tetapi juga ekonomi. Ketika di berbagai daerah perhatian masyarakat terhadap kondisi kawasan mangrove meningkat, di Bengkulu justru jalan di tempat. Padahal, kawasan mangrove di Bengkulu sangat mudah diakses dan berpotensi dikembangkan menjadi daerah wisata.

Ibarat pepatah, semut di seberang lautan terlihat jelas, sementara gajah di pelupuk mata tidak tampak. Itulah kondisi kawasan mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai di Kota Bengkulu.

Walaupun berada dekat dengan pusat kota dan mudah diakses, tidak membuat pemangku kepentingan menaruh perhatian serius pada mangrove. Bahkan, mungkin belum banyak juga pengambil kebijakan di daerah yang mengetahui bahwa ada mangrove di Kota Bengkulu.

Padahal, ancaman terhadap kelestarian mangrove di TWA Pantai Panjang selalu ada. Posisinya yang berada di kota dan mudah dijangkau, sering kali justru menambah rentan habitat mangrove. Dan jika dibiarkan, kawasan mangrove yang sudah banyak beralih fungsi jadi kolam dan kebun sawit itu niscaya akan habis.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Mugiharto mengatakan, dari tahun ke tahun luas areal mangrove di TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai terus turun. Daerah yang dahulu ditumbuhi mangrove kini telah berubah fungsi menjadi kolam atau kebun kelapa sawit. Nelayan juga sering menebang batang mangrove untuk membuat pondok di sektiar pantai atau perahu.

”Sebelum tahun 2000-an ada permintaan kayu mangrove yang banyak untuk arang. Ini juga yang menyebabkan penebangan mangrove marak saat itu,” kata Mugiharto.

Di tahun 2002, areal mangrove di TWA Pantai Panjang yang masuk dalam wilayah Kelurahan Sumber Jaya, Teluk Sepang, dan Kelurahan Kandang, Kecamatan Kampung Melayu, seluas 1.000 hektar. Di tahun 2007, luas itu berkurang menjadi 535 hektar.

Di antara berbagai jenis mangrove yang ada di TWA itu, Avicennia marina dan Sonneratia alba menjadi jenis mangrove yang paling rusak. Penyebabnya ialah posisi kedua jenis mangrove ini paling dekat dengan permukiman penduduk sehingga mudah dijangkau.

Bermula dari kepedulian terhadap kawasan mangrove yang kian menyusut itulah, sejumlah anak muda membentuk Komunitas Mangrove Bengkulu. Mereka berkomitmen untuk menanami mangrove di daerah pasang surut TWA Pantai Panjang. Difasilitasi oleh BKSDA Resor Kota Bengkulu, komunitas yang beranggotakan sekitar 20 orang itu berencana menanami lahan pasang surut seluas lebih kurang 5,8 hektar di TWA Pantai Panjang dan 3 hektar di Kelurahan Pondok Besi, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.

Koordinator Komunitas Mangrove Bengkulu, Riki Rahmasyah, menuturkan, di tahap awal calon anggota komunitas yang mayoritas mahasiswa harus mengikuti pendidikan dan latihan. Mereka diajari pengenalan habitat, jenis, dan manfaat mangrove. Selebihnya mereka lebih banyak aksi langsung di lapangan sambil berdiskusi.

Mereka kemudian membagi diri dalam kelompok yang masing-masing beranggotakan 5-6 orang. Ini untuk memudahkan teknis menanam di lahan yang sudah diplot dalam beberapa blok. Sejauh ini, Komunitas Mangrove Bengkulu sudah menanam lebih dari 1.000 batang mangrove di lahan pasang surut seluas 5 hektar, yaitu 2 hektar di TWA Pantai Panjang dan 3 hektar di Pondok Besi.

Karena kebanyakan anggota komunitas adalah mahasiswa, maka waktu menanam mangrove biasanya dilakukan setiap akhir pekan. Setelah mencari bibit ke dalam hutan mangrove, mereka langsung menanamnya di blok yang telah ditentukan.

Sebenarnya di kawasan TWA Pantai Panjang ada beberapa jenis mangrove, seperti misalnya Rhizopora apiculataBruguiera sexangulaLumnitzera littorea, dan Avicennia alba. Namun, yang banyak ditanam adalah Rhizopora apiculata karena jenis inilah yang bibitnya banyak tersedia di lokasi.

”Kalau suksesi buatan atau penanaman tidak dilakukan, kawasan pasang surut hanya akan jadi padang rumput biasa. Memang, jika dibiarkan lama-lama pohon mangrove secara alami akan tumbuh, tapi pertumbuhannya lambat,” kata Rendra Regen Rais, salah satu anggota Kominitas Mangrove Bengkulu.

Empat bulan sudah anggota komunitas itu menanam mangrove. Tanaman mangrove yang ditanam di Pondok Besi sudah mulai tumbuh, dan diharapkan yang ditanam di TWA Pantai Panjang belum lama ini dapat tumbuh. Jika ada tanaman yang mati, anggota kelompok akan menggantinya dengan tanaman baru.

Ricky menyatakan, Komunitas Mangrove Bengkulu tidak hanya menanam saja melainkan juga akan merawat tanaman itu sesuai blok yang menjadi tanggung jawabnya.

Di Bengkulu, selain di TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai di Kota Bengkulu, areal mangrove yang luas ada juga di Taman Buru Bukit Nanu’a di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Di luar itu, ada juga di Cagar Alam (CA) Pasar Ngalam, Seluma, Talo di Kabupaten Seluma, TWA Air Hitam dan CA Mukomuko di Kabupaten Mukomuko, serta CA Air Rami di Kabupaten Bengkulu Utara.

Untuk memperluas cakupan kegiatan penanaman mangrove, komunitas juga akan merekrut sukarelawan dari kelompok pencinta alam di sekolah-sekolah dan pihak-pihak lain baik perorangan maupun institusi yang peduli mangrove.

Keberadaan Komunitas Mangrove memang baru seumur jagung. Namun, kegiatan penanaman mangrove yang dilakukannya sejauh ini sudah menunjukkan komitmen kuat terhadap konservasi mangrove.

Bagi para anggota komunitas, menanami kembali mangrove bukan hanya untuk menyelamatkan ekologi semata, tetapi juga ekonomi masyarakat sekitar Pantai Panjang. Selama ini, hutan mangrove Pantai Panjang menjadi lokasi masyarakat mencari kepiting, kerang, udang, dan ikan untuk dijual.

Rusaknya mangrove akan mengakibatkan persediaan ikan menurun sebab kawasan mangrove menjadi daerah pemijahan ikan. Selain itu, rusaknya mangrove juga bisa berakibat pada menghilangnya sejumlah satwa seperti burung dara laut, burung betet, cekakak, kuntul, elang laut, berang-berang, dan kucing hutan.

Mugiharto pernah menghitung bahwa nilai ekonomi total dari mangrove pada kawasan seluas 100 hektar di TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai saja bisa mencapai Rp 6,4 miliar atau Rp 64 juta per hektar. Sungguh nilai ekonomi yang tidak sedikit.

Selain itu, mangrove yang rapat juga dapat mengurangi abrasi dan menekan dampak dari bencana tsunami. Oleh karena itulah, penyelamatan mangrove di TWA Pantai Panjang menjadi sesuatu yang penting artinya. (Adhitya Ramadhan/KOMPAS CETAK)
Sumber : 
http://sains.kompas.com/read/2013/11/01/2122062/Menanam.Mangrove.untuk.Ekonomi.dan.Ekologi
terbit : Jumat, 1 November 2013 | 21:22 WIB

Memanen Kebaikan Mangrove

Salah Seorang Nelayan sedang Menjala Udang di Hutan Mangrove
Matahari sudah condong ke Barat saat Safri turun ke muara Sungai Air Manjunto. Saat air surut, ayah tujuh anak itu memasang jaring atau alat tangkap kepiting di dalam hutan mangrove atau bakau di tepi muara sungai.

"Besok pagi akan diperiksa. Biasanya selalu ada kepiting yang nyangkut," ucap nelayan penangkap kepiting bakau itu saat ditemui di muara Sungai Manjunto, pekan lalu.

Mencari dan menangkap udang dan kepiting bakau adalah mata pencaharian utama Safri. Ia dan 35 orang nelayan Desa Pasar Sebelah Kecamatan Kota Mukomuko Kabupaten Mukomuko, Bengkulu merupakan anggota kelompok Kepiting Bakau Pasar Sebelah.

Masyarakat nelayan yang bermukim di pesisir Pantai Barat Sumatera itu menggantungkan mata pencaharian dari kekayaan alam yang terdapat di dalam ekosistem mangrove.

"Setiap hari kami mencari udang dan kepiting di muara untuk mendapatkan uang menghidupi keluarga," tutur Safri.

Saat musim udang dan kepiting, Safri bisa mendapatkan uang Rp300 hingga Rp400 ribu per hari. Sedangkan pendapatan paling minim sebesar Rp100 ribu per hari.

Ketua Kelompok Kepiting Bakau Pasar Sebelah, Sabra mengatakan setiap hari tidak kurang dari 500 kilogram kepiting bakau tangkapan nelayan dari muara sungai itu.

"Biasanya kami jual ke pembeli yang akan mengirim ke Padang dan sebagian dijual ke pasar di Mukomuko," ujarnya.

Ia mengemukakan kelompok yang dibentuk pada 2008 itu untuk mewadahi koperasi nelayan, sekaligus pembinaan masyarakat tentang perlindungan dan fungsi ekosistem mangrove.

Mangrove muara Sungai Air Manjunto cukup dikenal sebagai satu-satunya lokasi penghasil kepiting bakau di wilayah kabupaten yang berbatasan dengan Sumatera Barat itu.

Anggota Kelompok Kepiting Bakau Pasar Sebelah bahkan menjadi pemasok bibit bagi pembudidaya kepiting soka di wilayah itu.

Keberlanjutan profesi para nelayan muara dengan tangkapan utama yakni udang dan kepiting tersebut tidak terjadi begitu saja.

Sejak tahun 2000 masyarakat pesisir itu proaktif menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove sepanjang 8 kilometer dengan ketebalan 50 meter yang membentang hingga ke pesisir Pantai Pasar Sebelah.



Benteng Tsunami

Adalah Kepala Desa Pasar Sebelah, Tabrani salah seorang perintis pelestarian ekosistem mangrove Muara Air Sungai Manjunto.

Thabrani mengatakan tak hanya keuntungan ekonomi, mangrove juga menjadi benteng tsunami bagi Bengkulu yang rawan gempa bumi.

"Sebelum tsunami Aceh, kami masyarakat di sini sudah melindungi mangrove sebagai benteng penahan ombak," ungkap Thabrani.

Pada akhir tahun 2000, wilayah Bengkulu dilanda gempa berkekuatan 7,5 pada skala Richter.

Gempa bumi kembali mengguncang Bengkulu pada 2007 dengan skala yang lebih besar yakni 7,9 Richter, dan wilayah Mukomuko merupakan yang terparah sehingga menimbulkan tsunami kecil setinggi satu meter.

"Kala itu hutan mangrove yang menahan ombak sehingga desa tidak terendam air laut," kenangnya.

Untuk melindungi mangrove yang ada di sekitar desa mereka, pada 2005 dibentuk peraturan desa yang mengatur tentang perlindungan mangrove di Pasar Sebelah.

Perlindungan yang dimaksud adalah larangan merusak mangrove serta hutan cemara yang tumbuh di pinggir pantai.

Sanksinya cukup berat. Bila merusak pohon mangrove wajib membayar ganti rugi sebesar Rp2,5 juta per batang.

Peraturan desa tersebut efektif. Sejak diberlakukan, hanya sekali terjadi pengambilan pohon mangrove untuk tiang pancang pembangunan rumah.

"Itu pun warga dari desa tetangga yang mengambil dan kami upayakan damai," imbuhnya.

Thabrani mengatakan warga desa yang berjumlah 315 kepala keluarga sepakat menjaga mangrove di wilayah itu. Bahkan pada 2008, masyarakat menanam sebanyak 12 ribu bibit mangrove di atas lahan seluas empat hektare di muara sungai tersebut.

Kini, bibit mangrove yang ditanam warga sudah berumur enam tahun dengan tinggi pohon mencapai lima hingga delapan meter dan menjadi habitat ikan, udang dan kepiting bakau.

"Kalau masyarakat yang menanam dan merawat dan mereka mengerti fungsinya, biasanya akan berhasil," tambah dia.

Menurut mantan Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Pasar Sebelah ini, tidak hanya anggota Kelompok Kepiting Bakau, setiap orang bebas mengambil ikan, udang dan kepiting di muara itu.

"Bahkan dari desa lain juga bisa, asalkan mematuhi peraturan desa kami, tidak boleh merusak mangrove," katanya.


Penyimpan Karbon

Hutan mangrove atau disebut juga hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.

Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik.

Dosen Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu, Gunggung Senoaji mengatakan hutan mangrove memiliki beragam fungsi, termasuk penyerap karbon.

"Selain sebagai tempat pemijahan ikan, pelindung dari abrasi pantai dan sebagai sumber pangan, mangrove juga menyimpan karbon," papar dosen yang tengah membimbing empat orang mahasiswa peneliti mangrove Bengkulu ini.

Mangrove di Desa Pasar Sebelah menurut dia merupakan salah satu lokasi riset guna mengukur serapan karbon dengan membuat 31 plot penelitian atau seluas 3.100 meter persegi.

Sejumlah lembaga riset kata dia telah merilis serapan karbon di hutan mangrove primer sebesar 170 ton per hektare dan mangrove sekunder sebanyak 120 ton per hektare.

Menurut Gunggung, sebagai ekosistem yang menyerap karbon, hutan mangrove perlu dilestarikan sebagai langkah mitigasi perubahan iklim.

Apalagi mangrove Indonesia menjadi bagian dari Program Karbon Biru atau "Blue Carbon" yang ditargetkan bisa mendukung komitmen Indonesia menurunkan emisi karbon secara sukarela hingga 26 persen pada tahun 2020 dan hingga 41 persen dengan dukungan internasional.

Dari pengamatan lapangan kata dia, secara umum ancaman kerusakan mangrove di wilayah Provinsi Bengkulu antara lain untuk permukiman, kebun sawit dan tambak ikan atau udang.

"Inisiatif masyarakat untuk menjaga dan melestarikan sangat perlu diapresiasi dan didukung," ujarnya.

Dari penelitian empat orang mahasiswa di empat lokasi vegetasi mangrove antara lain di Kabupaten Seluma, Kota Bengkulu dan Mukomuko menurutnya akan memberi gambaran tentang potensi mangrove Bengkulu, ancaman kerusakan serta habitat yang masih bisa direhabilitasi.

Ketua Tim Percepatan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Badan Lingkungan Hidup Bengkulu pada 2014 ini mengatakan, khusus di Bengkulu, mangrove primer hanya tersisa di Pulau Enggano, dengan luasan lebih dari 1.700 hektare. 

Sementara Ketua Komunitas Mangrove Bengkulu Riki Rahmansyah mengatakan semua orang bisa terlibat dalam mengantisipasi perubahan iklim salah satunya dengan menjaga dan melestarikan mangrove.

Karena itu, sejak 2010 komunitas ini mendorong masyarakat untuk terlibat langsung melindungi dan merehabilitasi mangrove di wilayah Kota Bengkulu.

"Kami bersama anggota karang taruna dan kelompok masyarakat pesisir menanam kembali vegetasi mangrove di empat muara sungai di Bengkulu," ucapnya.

Empat sungai dan anak sungai yang sudah direhabilitasi yakni muara Sungai Jenggalu, muara Sungai Bengkulu, muara Sungai Hitam dan anak sungai Pondok Besi.

Tidak hanya menanam, komunitas yang beranggotakan para mahasiswa dan masyarakat umum itu juga rutin memantau dan memelihara mangrove yang ditanam.

Riki berpendapat, ketika semua orang mau bekerja sama, melakukan secara serentak dan berkelanjutan, maka hal-hal kecil dapat memicu perubahan besar bagi masyarakat dan dunia.***1***

Sumber : LKKBN ANTARA Bengkulu

Sebuah tulisan dari Helti Marini Sipayung Yang menjadi tiket pertemuan perubahan iklim di Francis. Helti Marini Sipayung juga salah satu Anggota Komunitas Mangrove Bengkulu Selamat ya Salam Mangrove.

Minggu, 30 Agustus 2015

Burung Pantai Migrasi yang singgah di Hutan Mangrove Kota Bengkulu

Burung Pantai Migran 2014


Sumber : Bencoolen Bird Watching


Pengamatan Burung pantai migrasi di Bengkulu masih sangat jarang di lakukan sehingga data-data pengamatan mengenai burung pantai masih sangat minim sekali, begitu pula dengan kelompok-kelompok pengamat, pemerhati burung di Bengkulu. Berawal dari hoby Photography dan pengamatan satwa liar selama di bangku kuliah, serta beberapa kali diskusi sama uda Tedi Wahyudi untuk memulai pengamatan  burung pantai migran yang singgah di bengkulu pada saat musim migrasi.
Lokasi pengamatan burung pantai ini meliputi Muara sungai Jenggalu dan Hutan mangrove Pulau Baii, satu yang menjadi pertanyaan adalah jumlah pupulasi burung migran ini tidak sampai ratusan bahkan ada spesies populasinya tidak sampai puluhan. Ada 10 jenis Spesies yang teramati selama pengamatan mulai dari bulan Oktober hingga Desember 2014, spesies-spesies itu meliputi : Biru-Laut Ekor-Blorok, Bar-tailed Godwit (Limosa lapponica); Cerek kernyut, Pacific golden-plover (Pluvialis fulva); Cerek-Pasir Besar, Greater Sand-Plover (Charadrius leschenaultii); Cerek Pasir Mongolia, Mongolian Plover (Charadrius mongolus); Gajahan besar, Eurasian curlew (Numenius arquata); Kedidi Leher Merah, Rufous-necked Stint (Calidris ruficollis); Trinil Bedaran ,Terek sandpiper (Tringa cinereus); Trinil ekor kelabu, Grey-tailed tattler (Tringa brevipes); Trinil kaki merah, Common redshank (Tringa totanus); Trinil kaki Hijau, Common Greedshank (Tringa nebularia); Trinil pantai, Common sandpiper (Tringa hypoleucus). 

Biru-Laut Ekor-Blorok, Bar-tailed Godwit (Limosa lapponica)
Biru-Laut Ekor-Blorok, Bar-tailed Godwit (Limosa lapponica)
Cerek kernyut, Pacific golden-plover (Pluvialis fulva)
Cerek kernyut, Pacific golden-plover (Pluvialis fulva)
Cerek-Pasir Besar, Greater Sand-Plover (Charadrius leschenaultii)

Cerek-Pasir Besar, Greater Sand-Plover (Charadrius leschenaultii)
Cerek Pasir Mongolia, Mongolian Plover (Charadrius mongolus)
Gajahan besar, Eurasian curlew (Numenius arquata)
Gajahan besar, Eurasian curlew (Numenius arquata)
Kedidi Leher Merah, Rufous-necked Stint (Calidris ruficollis)
Kedidi Leher Merah, Rufous-necked Stint (Calidris ruficollis)
Trinil Bedaran ,Terek sandpiper (Tringa cinereus)

Trinil ekor kelabu, Grey-tailed tattler (Tringa brevipes)


Trinil kaki merah, Common redshank (Tringa totanus)
Trinil kaki Hijau, Common Greedshank (Tringa nebularia)



Trinil pantai, Common sandpiper (Tringa hypoleucus)
Trinil pantai, Common sandpiper (Tringa hypoleucus)


Photographer : Riki Rahmansyah
Hasil Pengamatan Bencoolen Bird Watching  2014
http://bencoolenbirdwatching.blogspot.com/2015/05/burung-pantai-migran-2014.html