Komunitas Mangrove Bengkulu

Rabu, 05 November 2014

Rusaknya Hutan Mangrove

Kerusakan hutan mangrove yang ada di Bengkulu banyak faktor menjadi penyebab utamanya, padahal keberadaan hutan mangrove sangat penting bagi kehidupan pesisir yakni dapat mengurangi abrasi, menambah ekonomis bagi nelayan dan dapat mengurangi resiko bencana alam (Tsunami). 
Namun saat ini masih banyak masyarakat pesisir Bengkulu yang kurang paham akan manfaat dari Mangrove baik secara ekologis maupun ekonomis sehingga banyak habitat mangrove yang rusak mulai dari berubahnya hutan mangrove menjadi kebun sawit, tambak ikan dan udang.  Dalam Kasus ini Komunitas Mangrove Bengkulu menumukan di lapangan seperti pengambilan tanin bakau minyak (Rhizophora apiculata) dan (Bruguiera gymnorrhiza) yang dapat dilihat pada foto dibawah ini, 

Rhizophora apiculata
Bruguiera gymnorrhiza
  gambar disamping terjadi di hutan mangrove Sungai Hitam yang di ambil taninnya oleh masyarakat untuk di jual kepada nelayan yang akan di gunakan untuk mewarnai pukat ( jaring nelayan ) supaya lebih tahan / umur pemakaiannya lebih lama, kejadian serupa juga dialami  di kawasan hutan mangrove Pulau Baai. Hal ini akan berdampak pohon-pohon ini akan mati secara perlahan-lahan.
Selain pengambilan  Tanin beberapa kasus yang lain adalah berubahnya kawasan hutan mangrove menjadi tambak udang di Pasar Pedati Bengkulu Tenga. 

lokasi tambak udang dari kejauhan
diseberang lokasi tambak udang ini hutan mangrovenya sudah rusak dan hanya ada beberapa pohon pidada (Sonneratia caseolaris) yang hampir mati padahal hutan mangrove sangat penting dalam menanggulangi resiko bencana Tsunami dan abrasi pantai yang terjadi di pasar pedati ini waktu Komunitas Mangrove Bengkulu survey ke lokasi ini baru sedikit penanaman Rhizophora apiculata yang ditanam di sini oleh masyarakat pasar pedati, untuk menyelamatkan ini ada tindakan lanjutan yaitu penyelamatan kawasan ini dengan cara pendekatan, penyuluhan kepada masyarakat di desa pasar pedati. 

hutan Mangrove yang telah rusak

seperti yang di ketahui bahwa tingkat laju abrasi di kawasan ini sangat tinggi. Jika tidak ada upaya penyelamatan bisa-bisa 2 tahun, 5 tahun atau bahkan 10 tahun lagi hutan mangrove disini akan hilang.


  







Tidak ada komentar:

Posting Komentar